Monolog di Ambang Reruntuhan
Di sini, udara adalah reruntuhan yang sunyi, mengendap di sela jemari yang gagal menggenggam. Aku adalah utara yang kehilangan kompasnya, menuntun langkahmu menuju padang ilalang yang terbakar. Tak ada burung-burung yang berani hinggap, hanya abu yang kau kira salju, menumpuk di pundakmu yang lelah. Ada retakan yang tumbuh pelan di balik dinding, seperti rayap yang memakan kenangan paling rahasia. Aku berdiri di sana, menjadi bayangan yang salah letak, merusak komposisi cahaya di ruang tamu yang kau tata. Setiap kali aku bergerak, ada vas yang pecah dalam diam, ada warna yang luntur dari lukisan yang dulu kita sebut rumah. Tak ada yang tersisa selain sisa hujan di atas meja, dingin dan menolak untuk meresap ke dalam kayu. Aku adalah nakhoda yang sengaja membocorkan lambung kapal, hanya untuk melihat seberapa jauh kita bisa tenggelam sebelum air asin membungkam segalanya. Kini jangkar itu karat, tertancap di dasar yang paling pekat, menahan kita dalam pelukan ...









