Biola fatamorgana
Luka ini kembali memulangkan pada liang paling sunyi,
saat raga sudah menjadi sisa-sisa pertempuran yang tak terlihat.
datang membawa tumpukan bara yang sudah siap tumpah,
seperti hujan musim gugur yang serak, lelah menahan awan.
Namun di ambang pintu itu, udara terasa terlalu padat.
Ada tawa-tawa lain yang memakan ruang,
ada suara-suara asing yang menjahit jarak.
Padahal datang untuk menyerahkan kunci jiwa yang letah,
pada satu-satunya tangan yang tahu cara memutarnya tanpa patah.
Ada perih yang merayap diam-diam,
seperti biola yang senarnya putus tepat saat nada ingin melambung.
Ternyata, "saat yang tepat" hanyalah fatamorgana yang terus membumbung
dan berdiri di sana, menjadi bayangan yang sopan,
tersenyum tipis di atas reruntuhan baterai sosial yang habis.
Menerima adalah jalan yang curam.
Kaki ini gemetar
menahan ingin untuk segera lari
dan menghilang.
Tapi memilih menetap sebentar dalam diam,
merayakan kecewa yang datang tanpa diundang.
Sebab meski kata-kata harus kembali tersimpan di saku,
melihat dari sudut ruangan yang bising ini
adalah satu-satunya cara untuk tetap utuh,
sebelum kembali menjadi asing bagi dunia yang riuh.



Komentar
Posting Komentar