Elegi Sang Penjaga Nyala
Di pundaknya, sebongkah karang putih diletakkan,
Bercahaya lembut, namun beratnya tak terlukiskan.
Ia memandang jemarinya yang gemetar,
Merasa rapuh, bagai ranting di tengah badai yang berkobar.
"Bagaimana jika karang ini retak karena genggamanku?"
Bisiknya pada malam yang menelan semua ragu.
Ada ketakutan yang menjalar seperti akar tua,
Di atas mejanya, sebuah lentera perak diletakkan,
Bara apinya adalah janji, namun sumbunya adalah beban.
Ia menatap jemarinya yang terbuat dari retak kaca,
Merasa tak pantas memeluk nyala yang begitu perkasa.
Takut ia, jika nanti jemarinya patah di tengah jalan,
Dan api itu padam, meninggalkan dunia dalam kegelapan.
Namun di balik takut, ada cemas yang lebih purba,
Jika ia menjauh, ia adalah batu yang menyumbat muara.
Ia ngeri menjadi penghalang bagi musim semi yang kan datang didepan mata,
Menjadi tirai hitam yang menutup fajar sebelum terang.
Batinnya adalah medan perang yang gaduh dan penuh luka menganga
Di antara hasrat untuk berlari menepi atau menjaga nyala ini
Yang seharusnya membawa hijau ke ladang-ladang yang layu.
Namun, ia merasa hanya setitik debu,
Tak layak memegang kunci gerbang menuju arah yang baru.
Akhirnya, tangan itu perlahan melonggar,
Melepaskan genggaman sebelum api benar-benar berpijar.
memilih kembali ke sudut gelap yang sunyi
Maka dengan satu tarikan napas yang tersedat,
Ia lepaskan jemala itu sebelum sempat melekat.
Ditinggalkannya ruang yang penuh dengan aroma harapan,
Memilih jalan sunyi di balik bayang-bayang kesenyapan.
Namun ternyata, sunyi itu kini menjadi riuh,
Dinding kamarnya seolah berbisik dengan nada yang keruh.
Ia pikir, kelegaan akan datang menjemputnya,
Seperti hujan yang membasuh debu-debu di jendela.
Ia pikir, pundaknya akan menjadi seringan kapas,
Setelah melepaskan sesuatu yang membuatnya sesak napas.
Namun, ketenangan itu ternyata hanyalah fatamorgana,
Kini dadanya sesak oleh sembilu yang tak kasat mata.
Setiap kali angin berhembus, ia mendengar kerat suara penyesalan,
Tentang sebuah nyala yang kini jadi hantu di kelopak mata.
Ia kini memikul beban yang tak memiliki bentuk,
Sebuah rasa yang seolah tanpa jeda merutuk



Komentar
Posting Komentar