Lagi-lagi Na Daehoon 2




Balik lagi nih, kita ngomongin Oppa Korea si bapaknya Junho.

Yap! Siapa lagi kalau bukan Aa Daehoon 😅


Untuk kasus ini, beredar banyak banget bukti di medsos—

katanya sih istrinya selingkuh, dan ya you know lah ya...

Mungkin udah jelas, ada bukti-bukti yang tersebar.


Tapi di tempat lain juga, ada aja kisah perempuan salihah, sukses,

yang ditinggal selingkuh.

Subhanallah… ada-ada aja dunia ini.


Sekarang tuh, jaman udah canggih banget.

Ada CCTV, ada rekaman HP, ada medsos—

jadi gampang banget nyimpen dan nyebarin “barang bukti”.


Tapi coba kita bahas satu hal yang sering banget kelewat:

gimana kalau nggak ada bukti sama sekali?

Cuma dugaan, gosip, dan komentar orang.


Nah, di sinilah dunia maya tuh sering kayak pengadilan tanpa hakim.

Semua orang bisa menuduh, bisa ngecap, bisa ngomong sesuka hati—

tanpa mikir, seberapa berat dosa dari satu kalimat yang kita lempar.


Termasuk waktu ada kasus yang lagi viral.

Langsung aja muncul komentar:

“Wah, pasti dia selingkuh!”

“Udah jelas tuh, ketahuan!”

Padahal, dalam Islam, nuduh orang berzina itu bukan hal sepele.


Allah udah ngatur tegas banget dalam Al-Qur’an:


> “Dan orang-orang yang menuduh wanita baik-baik berzina,

lalu mereka tidak mendatangkan empat orang saksi,

maka deralah mereka delapan puluh kali cambuk,

dan jangan kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya.”

(QS An-Nur: 4)




Bayangin, bukan cuma dosa, tapi juga ada hukuman fisik dan sosial

buat yang asal nuduh tanpa bukti.

Kenapa? Karena menjaga kehormatan seseorang itu besar banget nilainya di sisi Allah.


Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan juga dijelaskan dalam Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq bilang:

kalau tuduhan zina nggak bisa dibuktikan dengan empat saksi yang adil dan melihat langsung perbuatannya secara nyata,

maka tuduhan itu nggak sah.


Empat saksi itu pun bukan sembarang orang.

Mereka harus benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri,

dan perbuatannya harus jelas banget.

Kalau nggak sampai segitu, tuduhannya batal.


Terus kalau terbukti gimana?

Nah, di sini Islam tuh adil banget.


📍 Kalau pelakunya ghairu muhshan (belum menikah),

hukumannya dicambuk seratus kali di hadapan umum — (QS An-Nur: 2).


📍 Tapi kalau muhshan (sudah menikah),

hukumannya dirajam sampai mati, seperti dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam banyak hadits sahih.


Dan ini penting banget:

semua hukum itu nggak bisa dijalankan sembarangan orang.

Bukan netizen, bukan aparat biasa.

Hanya Khalifah dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah)

yang berwenang menegakkan hukum had seperti ini.


Karena kalau nggak ada sistem Islam yang tegak,

pelaksanaan hukum bisa kacau — malah jadi zalim, bukan adil.


Makanya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nidzam al-Uqubat menjelaskan:

hukum-hukum had itu baru bisa diterapkan dengan sah

kalau negara Islam (Daulah Khilafah) berdiri.

Karena cuma dia yang punya mekanisme hukum syar’i

untuk menjamin keadilannya.


Nah, kalau sistem ini jalan, akan muncul efek jera di masyarakat.

Orang mikir seribu kali sebelum berbuat maksiat,

karena tahu akibatnya besar —

bukan cuma di dunia, tapi juga di akhirat.


Selain itu, hukuman had juga jadi bentuk penebusan dosa bagi pelaku,

supaya dia nggak lagi disiksa di akhirat.


Ngeri, kan?

Karena hukum had ini Allah sendiri yang atur —

bukan karangan manusia.

Karena dampak zina itu besar banget buat rusaknya tatanan masyarakat.


🕊️ Islam tuh bukan cuma ngatur cara menegur dosa,

tapi juga ngajarin cara menjaga kehormatan orang lain.

Itulah bedanya sistem Islam — adil, hati-hati, dan penuh rahmat.


Follow 👉  IG @yourhijrahbestie dan @nophie.krkstiawati

biar kita belajar bareng, bukan nge-judge bareng.


Komentar

Postingan Populer