Pelukis tanpa tinta

 Di labirin penuh sekat tawa,

Adalah ia pelukis yang kehilangan kanvasnya.

Warna-warna tumpah, mencari bentuknya sendiri,

menolak jemari yang awalnya mereka panggil.

​C’est le languisseur d’un cœur

seperti rintik tipis yang ragu membasahi bumi.


Ada desak untuk meledak, menjadi api di pucuk cemara,

tapi dipadamkan oleh kabut yang sopan, yang datang tanpa suara.

​Dahulu, batu karang tak ingin beranjak,

lalu ombak merayu, menjanjikan tarian yang bijak.

Kini, ombak berdansa dengan angin di seberang sana, 

meninggalkan karang terasing dalam buih yang fana.


​Teringin lari ke dalam rimba kata yang pekat,

menjadi asing dari kawanan yang berjalan tanpa karat.

Sebab lebih baik diam membatu di dasar telaga,

daripada menjadi riak yang pura-pura bermakna.

​À quoi bon encore lutter?


Biarlah debu-debu ini menetap di bahuku,

menjadi jubah bagi lelah yang tak lagi butuh saksi.

​Matahari terbenam di balik punggungku,

memberi bayangan panjang yang tak lagi menapak salju.

tapi cukup untuk menjadikan beku sisa ragu

Selesai sudah;

biar sunyi ini menutup rapat liang bekas pijakku.


Komentar

Postingan Populer