Monolog di Ambang Reruntuhan
Di sini, udara adalah reruntuhan yang sunyi,
mengendap di sela jemari yang gagal menggenggam.
Aku adalah utara yang kehilangan kompasnya,
menuntun langkahmu menuju padang ilalang yang terbakar.
Tak ada burung-burung yang berani hinggap,
hanya abu yang kau kira salju, menumpuk di pundakmu yang lelah.
Ada retakan yang tumbuh pelan di balik dinding,
seperti rayap yang memakan kenangan paling rahasia.
Aku berdiri di sana, menjadi bayangan yang salah letak,
merusak komposisi cahaya di ruang tamu yang kau tata.
Setiap kali aku bergerak, ada vas yang pecah dalam diam,
ada warna yang luntur dari lukisan yang dulu kita sebut rumah.
Tak ada yang tersisa selain sisa hujan di atas meja,
dingin dan menolak untuk meresap ke dalam kayu.
Aku adalah nakhoda yang sengaja membocorkan lambung kapal,
hanya untuk melihat seberapa jauh kita bisa tenggelam
sebelum air asin membungkam segalanya.
Kini jangkar itu karat, tertancap di dasar yang paling pekat,
menahan kita dalam pelukan lumpur yang tak pernah tidur.
Di luar, jam dinding berdetak seperti langkah algojo,
menghitung mundur sisa napas di ruangan yang kian sempit.
Aku adalah musim gugur yang datang terlalu dini,
merenggut paksa hijau dari pucuk-pucuk yang sedang bermimpi.
Tak perlu ada suara, tak perlu ada ketukan di pintu,
sebab kunci itu sudah kutelan bersama segala janji yang basi.
Kini, biarkan aku menjadi sisa jelaga di ujung kuku,
hitam dan sulit dibersihkan dari setiap tarikan napas.
Sebab aku tahu, di labirin yang kau bangun dengan teliti,
aku adalah jalan buntu yang kau sesali pernah kau masuki.
Aku tinggal di sana, membusuk bersama waktu,
menjadi monumen dari segala hal yang tak sempat pulih.



Komentar
Posting Komentar