Dermaga dalam gontai asa
De
rmaga lama dijaga dengan debar yang rahasia,
menggenggam tiket yang tintanya luntur oleh peluh.
Bahtera besar telah membunyikan peluit panjang,
menjanjikan nama yang akan terukir abadi di lambung kertas.
Namun langkah tertahan, terjerat pinta yang datang mengetuk,
meminta arah, meminta peta, meminta jemari menenun jubah sandiwara.
Waktu lumat menjadi benang-benang naskah yang asing,
netra pecah menjadi kepingan panggung dihempas angin
Lalu, saat layar siap ditarik dan lampu-lampu mulai menyala,
tangan yang menarik ke tengah justru melepaskan pegangan,
membiarkan tumpukan kata karam dalam sunyi yang tak bertuan.
Di kejauhan, bahtera itu telah menjelma titik di batas cakrawala,
membawa pergi cita yang dibungkus rapi dalam doa.
Ada perih yang tak bersuara,
melihat seluruh daya habis untuk membangun istana pasir di tengah puing
sementara asa ini runtuh dihantam ombak yang tak kenal ampun.
Kini hanya tersisa jemari yang letah karena memahat peran,
di atas panggung yang tak lagi bising...
Menatap pintu yang telah terkunci rapat,
saat pasir di jam kaca sudah habis luruh ke dasar takdir,
meninggalkan bau asap yang menyesakkan di rongga dada.
Menerima semua ini adalah perjalanan mendaki yang tanpa puncak.
Menyaksikan pengorbanan yang menjadi sia-sia,
seperti menanam benih di atas karang demi janji musim semi yang dusta.
Hanya ada sunyi yang kian menebal,
dari sebuah penerimaan yang kekal.



Komentar
Posting Komentar