Di Antara Kertas Catatan, Langit, dan Letihnya Pundak

 

Aku duduk lagi,

menekuri catatan yang tak pernah rampung—

huruf-huruf berjatuhan seperti dedaunan musim gugur

di halaman ingatan yang basah.


Kadang aku bertanya,

“Sudahkah aku menumbuhkan iman—

atau hanya merangkai rutinitas?”


Di sudut meja itu,

ada secarik kertas kosong

dan setangkai pena usang yang berdebu.


Di atas tikar pandan—ah,

bukan sekadar lingkaran yang tertib,

melainkan taman kecil

tempat hati-hati rapuh itu belajar tumbuh;

pelan,

kadang berhenti—

tapi Allah-lah Sang Pemilik Cahaya.


Aku takut…

menjadi musyrifah yang sekadar hadir,

tapi tak sungguh membersamai.

Menjadi nama di grup WhatsApp

yang bunyinya sederhana:

“Sudah dibaca,”

namun tak pernah hadir dalam jiwa.


Aku takut…

menjadi musyrifah musykilah—

seperti kompas retak,

ada arah,

tapi tak bisa diikuti.


Atau lebih getir lagi—

menjadi musyrifah musibah:

yang saat darisah mengetuk,

mengalir padanya bukan teladan,

melainkan keluh-kesah,

drama dunia,

dan luka yang belum selesai.


Ya Rabb…

aku tak ingin menjadi pintu yang membuat mereka menjauh—

atau labirin penuh gema

yang membuat mereka bingung menemukan-Mu.


Aku ingin menjadi jembatan,

walau sederhana,

walau hanya tersusun dari doa-doa yang gemetar

dan kesalahan yang masih kuperbaiki.


Karena kadang,

pembinaan bukan tentang seribu materi,

melainkan keberanian mengakui segala silap diri.


Merenungi—

lalu mengubahnya menjadi tenaga

untuk sujud yang lebih dalam,

patuh yang lebih jujur,

ikhtiar yang lebih utuh.


Sebab jalan ini…

jalan para Nabi—

dan letihnya kadang perih.


Namun ketika menengok ke dada sendiri,

tempat dosa-dosa diam,

luka-luka berkarat,

dan aib yang tak terbaca,

aku gentar…


Takut menjadi penghalang cahaya—

takut jadi labirin yang justru menambah jeda

dari proses pulangnya seorang hamba.


Dan kelak, jika suatu hari

salah satu dari mereka berjalan lebih tegak,

lebih yakin,

lebih dekat kepada Rabb-nya—

maka air mata itu jatuh,

penuh syukur—

karena Penguasa hati

menutupi aibku yang menganga lebar.


Maka kidung doa berbisik,

lirih,

merayap dalam gelap,

mengalir bersama air mata.


dengan pundak yang mungkin tak tegap,

tapi selalu ada Dia

yang menopang

segala harap.


#hariguru #guru


Komentar

Postingan Populer