Palung yang Menyimpan Hujan

 


​Di balik tembok-tembok pualam yang berkilau,

Ia meringkuk serupa lumut di ceruk batu yang terlupakan.

Suara-suara dari menara itu masih sama—

Guntur yang menghujam, menghakimi setiap retak di jemarinya,

Mengulangi mantra tentang betapa ia adalah noda di atas kain suci.

​Ia ingin menghilang, melarut dalam tanah yang sunyi.

Merasa langkahnya hanya akan mengotori selasar yang rapi.

Apalagi kiblat yang diagungkan itu kini bergeming,

Menutup ufuk dengan tirai-tirai dingin yang tak tertembus,

 bahwa ia adalah anomali di tengah keteraturan.

​Namun, di kejauhan sana—di balik bukit-bukit yang pecah—

Ada tanah-tanah yang menganga, bibirnya kering pecah-pecah.

Ribuan akar tua menggeliat dalam sesak, menanti setetes rahasia.

Mereka tidak mencari matahari yang silau dari menara tinggi,

Mereka mencari rembesan air yang lahir dari palung terdalam.

​Ada denyut yang memanggil di bawah permukaan.

Bukan dari mereka yang berdiri tegak memegang panji,

Tapi dari jiwa-jiwa yang menggigil, meraba dalam gelap tanpa arah.

Mereka tak butuh kesempurnaan pualam yang dingin,

Mereka butuh tangan yang juga pernah berdarah untuk saling menggenggam.

​Maka, meski lututnya gemetar oleh beban rasa bersalah,

Meski bayang-bayang masih menghalangi cahaya matahari,

Ia mulai merangkak, bukan menuju puncak menara itu,

Melainkan menuju lembah-lembah yang haus dan terluka.

​Biarlah ia dicap sebagai kotoran oleh panggung yang megah.

Biarlah namanya luruh dari prasasti-prasasti yang diagungkan.

Sebab ada sebuah taman yang layu, sedang menahan napas terakhirnya,

Menunggu ia bangkit untuk menjadi hujan bagi mereka yang terlupakan.

Komentar

Postingan Populer