Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Elegi Sang Penjaga Nyala

Di pundaknya, sebongkah karang putih diletakkan, Bercahaya lembut, namun beratnya tak terlukiskan. Ia memandang jemarinya yang gemetar, Merasa rapuh, bagai ranting di tengah badai yang berkobar. "Bagaimana jika karang ini retak karena genggamanku?" Bisiknya pada malam yang menelan semua ragu. ​Ada ketakutan yang menjalar seperti akar tua, ​Di atas mejanya, sebuah lentera perak diletakkan, Bara apinya adalah janji, namun sumbunya adalah beban. Ia menatap jemarinya yang terbuat dari retak kaca, Merasa tak pantas memeluk nyala yang begitu perkasa. Takut ia, jika nanti jemarinya patah di tengah jalan, Dan api itu padam, meninggalkan dunia dalam kegelapan. ​Namun di balik takut, ada cemas yang lebih purba, Jika ia menjauh, ia adalah batu yang menyumbat muara. Ia ngeri menjadi penghalang bagi musim semi yang kan datang didepan mata, Menjadi tirai hitam yang menutup fajar sebelum terang. Batinnya adalah medan perang yang gaduh dan penuh luka menganga Di antara hasrat untuk berlari m...

Postingan Terbaru

Krisis Moral Remaja dan Hilangnya Wibawa Guru, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Hari Santri dan Agenda Yang Terlupa

Pelajar Terjerat Judol dan Pinjol: Kredibilitas Sistem Pendidikan Sekuler yang Rapuh

Lagi-lagi Na Daehoon 2

Sungai yang Tak Bisa Diam

Pelukan Pekerjaan dan Krisis Kapitalisme

Mudik Lancar atau Jumlah Pemudik yang Menyusut?

Ramadhan: Bulan Pembentuk Insan Taat, Bukan Jadi Muslim Moderat (Tanggapan dan Komentar Warga Jogja)

Pendidikan Layak: Hak Dasar Generasi Yang Seperti Utopi

Ratapan Musim Gugur