Sungai yang Tak Bisa Diam
Sungai yang Tak Bisa Diam
Dua sungai masih mengalir dari hulu yang sama.
Satu tenang, mengusap batu, berbisik lembut pada lumut.
Satu lagi gelisah, menggerus dasar, ingin segera bertemu laut.
Ia berdiri di tanah basah di tengahnya —
menyimpan gema dua suara yang bertolak:
“Pelan saja, air pun butuh waktu,”
dan
“Jika terlalu lama diam, air bisa membusuk.”
Ia menatap langit,
merasa dadanya jadi pertemuan badai dan doa.
Karena ia tahu, diam terlalu lama
kadang sama buruknya dengan berlari tanpa arah.
Ia ingin menjembatani,
tapi setiap langkah terasa seperti mencipta riak baru.
Ia ingin patuh,
tapi ada gelora di nadinya yang berkata:
“Air yang baik bukan yang menunggu,
melainkan yang mengalir bersama,
menyatu,
menemukan muara yang sama.”
Malam-malam ia duduk di tepi air,
menggenggam setitik tanah di telapak tangan.
Lalu berbisik pada dirinya sendiri:
“Barangkali, bukan dua sungai yang harus dipilih,
tapi batas di antaranya yang harus lenyap



Komentar
Posting Komentar