Ramadhan: Bulan Pembentuk Insan Taat, Bukan Jadi Muslim Moderat (Tanggapan dan Komentar Warga Jogja)



 

Salah satu media favorit saya adalah Muslimah Inspiratif, silakan Kunjungi Facebook resmi Muslimah Inspiratif. In syaa' Allah akan ada banyak insight baru yang kamu akan temukan.😉

Contohnya di bawah ini nih:

https://www.facebook.com/share/p/1BRa3o333F/

#JagonganWongJogja



Ramadhan: Bulan Pembentuk Insan Taat, Bukan Jadi Muslim Moderat (Tanggapan dan Komentar Warga Jogja)


#MuslimahInspiratif-- Program moderasi beragama kian masif diaruskan. Konten-konten terkait moderasi banyak disampaikan dalam momen Ramadhan tahun ini. Misalnya apa yang disampaikan oleh 

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY, Dr. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum. dalam Ramadan Public Lecture (RPL) bertajuk “Meneguhkan Kembali Komitmen Negara terhadap Kebebasan Beragama”, di Masjid Kampus UGM, Kamis (6/3/2025).


Ia menyampaikan bahwa kebebasan beragama merupakan bagian dari sunnatullah. Prinsip ini diimplementasikan melalui Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama. Ia menekankan, esensi moderasi beragama bukanlah upaya memoderasi ajaran agama itu sendiri, melainkan membangun kesadaran umat beragama untuk bersikap proporsional dalam menghadapi perbedaan. Menurutnya, moderasi beragama bukanlah reduksi terhadap nilai-nilai agama, melainkan upaya menempatkan umat pada jalan tengah. Tujuannya agar masyarakat tidak terjebak dalam sikap ekstrem kanan maupun kiri, tetapi mampu menjadi penyeimbang yang menghormati keragaman dalam bingkai kebhinnekaan (masjidkampus.ugm.ac.id, 08/03/2025).


Rangkaian Safari Syiar Ramadan 1446 H yang dipandu oleh Kakankemenag Kota Yogyakarta, Nadhif, berlanjut ke Aula Balai Kota Yogyakarta, Ahad (9/3/2025). Rombongan diterima dengan penuh kehangatan oleh jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta. Agenda ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama antara Kementerian Agama RI dengan Universitas Al-Azhar Kairo. Kegiatan ini diharapkan semakin mempererat hubungan antara ulama Al-Azhar dengan masyarakat Yogyakarta dalam rangka menyebarkan dakwah Islam yang moderat dan inklusif (kemenag.go.id, 9/3/2025).


Bagaimana tanggapan dan komentar beberapa warga Jogja? 👇🏻


***

MODERASI BERAGAMA, SOLUSI ATAU ILUSI?


Ratri Sti M.

(Aktivis Muslimah, DIY)


Moderasi beragama kerap digaungkan sebagai solusi agar umat tidak terjebak dalam ekstremisme. Namun, tanpa batasan yang jelas, konsep ini justru bisa mengaburkan prinsip-prinsip syariat. Islam telah memiliki pedoman yang sempurna dalam Al-Qur'an dan Sunah, yang tidak perlu disesuaikan dengan standar pemikiran manusia agar diterima semua pihak.


Islam mengajarkan kita untuk berpegang teguh pada ajaran secara kafah (menyeluruh), bukan mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya demi alasan moderasi. Toleransi dalam beragama tentu penting, tetapi harus tetap dalam koridor syariat. Jika moderasi beragama dimaknai sebagai penerimaan tanpa batas terhadap semua pemahaman, hal ini bisa mengarah pada kompromi terhadap nilai-nilai Islam. Sebagai muslim, kita seharusnya teguh dalam ajaran yang sudah jelas, tanpa harus mengorbankan prinsip demi konsep jalan tengah yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai Islam.


Pada akhirnya, moderasi beragama tidak boleh menjadi alat untuk melemahkan keteguhan umat dalam menjalankan syariat. Allah telah memerintahkan kita untuk berislam secara kafah (QS. Al-Baqarah: 208), yaitu menerima dan mengamalkan seluruh ajaran Islam tanpa pengecualian. Yang dibutuhkan bukanlah moderasi, melainkan pemahaman yang lebih dalam serta keberanian untuk berpegang teguh pada kebenaran tanpa kompromi.


***

RAMADHAN: WAKTUNYA KEMBALI KE FITRAH, BUKAN MEMELINTIR AKIDAH


Novi Kristiawati

(Aktivis Muslimah, Pundong, Bantul, DIY)


Ramadhan adalah momen berharga bagi umat Islam untuk memperbaiki diri dan memperkuat ketaatan pada Allah Swt.. Di bulan ini, kita diajarkan sabar, jujur, dan tunduk pada aturan-Nya secara menyeluruh, sesuai firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan...” (QS. Al-Baqarah: 208). Ini adalah panggilan untuk mengamalkan Islam secara kafah, bukan memilih-milih ajaran agar sesuai dengan standar tertentu.


Narasi muslim moderat yang sering digaungkan perlu disikapi hati-hati, agar kita tidak tergelincir dari ajaran Islam demi terlihat sejalan dengan pemikiran luar. Ramadhan justru saat yang tepat untuk kembali ke fitrah, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama, tanpa mengorbankan akidah. Yuk, jadikan Ramadhan sebagai bulan untuk memperkuat iman dan mengamalkan Islam secara utuh, bukan sekadar mencari titik tengah yang mengaburkan kebenaran.


***

BERISLAM SECARA KAFAH


Faatihatur Roiifah

(Mahasiswi, DIY)


Esensi dari moderasi beragama berarti menempatkan umat pada jalan tengah serta bersikap proporsional dalam menghadapi perbedaan. Jika kita telaah secara mendalam, ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dalam memahami ayat Allah dalam surat al-Baqarah: 143. Menjadi umat pertengahan berarti kelak umat Islam mejadi saksi yang adil atas umat-umat lain bahwa umat Islam telah menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada umat-umat lain. Sangat berbeda dengan jalan tengah atau kompromi yang ada dalam ideologi sekularisme kapitalisme.


Dalam menghadapi perbedaan, Islam mengakui adanya pluralitas tapi tidak dengan plularisme. Perbedaan suku, bangsa, bahasa dan agama adalah suatu yang sudah biasa kita temui. Namun, sikap dari menghormati perbedaan tidak termasuk membenarkan dan mengikuti ajaran-ajaran agama lain. Cukuplah umat Islam berislam secara kafah dan tidak mengambil jalan lain selain Islam sebagaimana yang telah diperintahkan Allah.


وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Siapa yang mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali 'Imran: 85).


***

ISLAM TANPA EMBEL-EMBEL


Yusmiati

(Aktivis Muslimah, Sentolo, Kulon Progo, DIY) 


Moderasi beragama adalah konstruksi Barat yang dipaksakan pada Islam, dan dirancang untuk melemahkan prinsip-prinsip fundamental atau menyesuaikan agama dengan norma-norma sekuler. Maka, jualan moderasi beragama atau Islam moderat merupakan sikap tidak berpihak dengan agama Islam itu sendiri. Kompromi atau sikap moderat dapat menjadi eufemisme untuk mengabaikan atau merelatifkan hukum-hukum Islam (syariat). 


Islam adalah agama perubahan, bukan agama yang mudah diubah-ubah. Istilah moderat ini dapat dieksploitasi untuk tujuan politik oleh pihak tertentu. Beberapa penguasa atau rezim otoriter menggunakan label moderat untuk melegitimasi kebijakan mereka sendiri, sering kali dengan menekan atau meminggirkan kelompok-kelompok Islam yang menurut pandangan mereka lebih konservatif. Dalam konteks ini, penolakan terhadap Islam moderat bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap manipulasi agama untuk kepentingan politik.


Esensi Islam itu sendiri sudah mencakup nilai-nilai keadilan, kedamaian, dan toleransi. Istilah Islam moderat sebagai label tambahan tidak diperlukan, karena nilai-nilai tersebut sudah intrinsik dalam ajaran Islam. Sebaliknya, perlu ditekankan pentingnya kembali kepada pemahaman dan praktik Islam yang otentik, yang sudah mengandung solusi bagi tantangan-tantangan modern.


***

TAK PERLU MODERASI BERAGAMA UNTUK MENJAGA KEBHINEKAAN


Ummu Ahnaf

(Pengajar TPQ, Bantul, DIY) 


Islam sesungguhnya melarang umat Islam memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Islam juga membiarkan penganut agama lain untuk beribadah sesuai keyakinannya. Tak ada diskriminasi ras, suku, dan warna kulit, bahkan dalam khasanah pemikiran Islam sendiri ada perbedaan hasil ijtihad yang diperkenankan. 


Maka, jelas penguatan arus moderasi beragama yang masif dilakukan untuk menjaga keragaman dalam bingkai kebhinekaan sesungguhnya tidak diperlukan jika sistem Islam diterapkan secara sempurna. Adanya jaminan kerukunan dan keamanan antarumat beragama serta adanya sanksi tegas bagi yang melanggar hanya akan terwujud dengan penerapan Islam kafah, bukan moderasi beragama.


***

TIPU DAYA MODERASI BERAGAMA


Utami Nurhayati

(Aktivis Muslimah, Bantul, DIY)


Tidak dapat dimungkiri bahwa ada proyek besar untuk mengikis perjuangan Islam, salah satunya dengan memasukkan istilah-istilah tertentu. Moderasi atau wasathiyah salah satunya. Secara permukaan terlihat baik karena memberikan hak-hak orang kafir (non muslim). Hal ini pun didukung dengan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Sunah Rasulullah ﷺ yang memerintahkan untuk berbuat baik, saling tolong menolong, dan tidak menggangu aktivitas mereka. Namun sejatinya, moderasi atau wasathiyah ini malah lebih diutamakan hingga mengamputasi kewajiban lainnya. 


Selain itu, maraknya penghinaan kepada Islam dan terang-terangan dilakukan oleh siapa pun di dunia nyata maupun sosial media. Sejatinya hal ini dapat hilang dengan mudah ketika Islam kembali memimpin peradaban dunia dengan menerapkan syariat Islam secara sempurna.


Satu hal yang perlu diingat, bahwa sejatinya Islam ketika ditegakkan akan memenuhi hak-hak siapa pun termasuk orang kafir sesuai dengan apa yang telah Allah atur di dalam Al Qur'an dan Sunah Rasulullah ﷺ. Maka, suatu kebodohan jika kita menganggap Islam tidak dapat memimpin dan mengurus dunia dengan syariat.


***

JANGAN MENJADI KAKI TANGAN IDE LIBERAL


Galuh Rosmaniar

(Aktivis Muslimah, Sleman, DIY)


Bulan Ramadhan bulan penuh keberkahan, di mana amalan kebaikan dilipatgandakan. Bulan penuh kisah perjuangan ketika Rasul dan para sahabat melakukan futuhat di berbagai wilayah sebagai salah satu cara menyebarkan Islam. Nahasnya, Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim menjadikan bulan Ramadhan sebagai syiar moderasi beragama yang malah jauh dari nasihat ketakwaan. 


Kemenag dan Universitas Al Azhar Kairo bukanlah sekelompok orang biasa yang tidak paham agama. Seharusnya mereka adalah orang-orang yang justru berada di garis depan dalam rangka menyebarkan dakwah Islam kafah. Cukup mengajak mempraktikkan Islam secara keseluruhan tanpa mempertimbangkan ide toleransi ala liberal agar Islam tampak indah, karena sejatinya ajaran Islam telah sempurna dan tanpa cacat apalagi cela.


Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan para khulafaur rasyidin telah membawa Islam sebagai mercusuar dunia. Yang mereka ajarkan kepada umat adalah peradaban Islam sempurna ketika menerapkan Al-Qur'an dan Sunah di segala lini kehidupan, baik itu sistem sosial, ekonomi hingga hukum. Terbukti, toleransi dan hidup berdampingan dengan berbagai suku di belahan dunia dengan kepercayaan yang berbeda-beda bisa hidup berdampingan di bawah naungan Islam. 


Kita tidak membutuhkan ide moderasi beragama dengan dalih agar tidak terlalu ekstrem kiri ataupun kanan. Yang kita butuhkan adalah Islam bukan hanya sebagai pengatur individu, namun Islam sebagai pengatur kehidupan di level negara.


***

BANGUN KESADARAN UMAT DENGAN ISLAM KAFAH


Miladiah al-Qibthiyah

(Aktivis Muslimah, Depok, Sleman, DIY) 


Salah satu tantangan zaman yang dihadapi oleh umat saat ini adalah moderasi beragama. Kebebasan beragama yang merupakan bagian dari proyek moderasi beragama justru menjauhkan umat Islam dari pemahaman agama yang utuh dan menyeluruh. Umat terjebak dalam narasi menghormati keragaman dengan menjadi muslim yang moderat. Faktanya, muslim yang moderat sejalan dengan pemahaman sekuler yang menjadikan urusan kehidupan lepas dari aturan agama yang menyeluruh. 


Patut dipahami bahwa agama Islam adalah "way of life" yang tuntunan dan panduannya langsung dari Allah Sang Pencipta kehidupan ini, tidak lain agar manusia selamat dari berbagai ajaran yang bukan bagian dari ajaran Islam kafah. Umat harus sadar bahwa kesempurnaan ajaran Islam adalah ketika Islam tidak hanya dipahami secara utuh, melainkan harus diterapkan secara menyeluruh (kafah) dalam kehidupan. Oleh karena itu, segala hal yang mencederai ajaran Islam kafah, seperti narasi kebebasan beragama, narasi Islam moderat, toleransi dalam bingkai kebhinekaan, dsb, harus diluruskan dengan pemahaman Islam kafah. 


Penerapan Islam secara utuh (kafah) sudah terbukti berhasil menyatukan berbagai perbedaan suku, bangsa, dan budaya dalam kehidupan yang aman, tenteram, dan sejahtera. Menumbuhkan kesadaran umat agar melek literasi sejarah Islam harus diupayakan agar mereka paham bahwa Islam bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan bukti nyata bahwa selama 13 abad umat pernah berada di fase kejayaan peradaban dan itu harus diwujudkan kembali dengan berkontribusi dalam penyebaran dakwah Islam kafah ke seluruh penjuru dunia.[]


----------------------------------------------

Silakan like, comment, and share seluas-luasnya dengan mencantumkan sumber Muslimah Inspiratif.

----------------------------------------------

Follow kami di

Facebook: fb.com/MuslimahInspiratifDIY

IG: instagram.com/MuslimahInspiratif.diy

----------------------------------------------

Dari Jogja Menginspirasi Dunia

----------------------------------------------


Komentar

Postingan Populer